Cetak Pendamping Handal, PAC IPNU IPPNU Buayan Gelar Latihan Fasilitator
- account_circle Siti Mukaromah
- print Cetak

KEBUMEN, NUOKe — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Buayan mengambil langkah taktis dalam memperkuat pilar kaderisasi tingkat akar rumput. Mengusung misi mencetak instruktur dan pemandu forum yang kredibel, badan otonom kepemudaan Nahdlatul Ulama ini sukses menyelenggarakan agenda Latihan Fasilitator 2026 pada Minggu, 4 Oktober 2026.
Kegiatan strategis yang membedah metodologi pendampingan forum tersebut bertempat di kompleks Biogas Desa Banyumudal, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen. Puluhan kader terpilih utusan Pimpinan Ranting (PR) dan Pimpinan Komisariat (PK) se-Kecamatan Buayan tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian materi sejak pagi hingga petang. Agenda ini turut dihadiri oleh jajaran pembina PAC, alumni, serta tokoh Nahdliyin setempat yang memberikan suntikan motivasi moral bagi dinamika belajar kader muda.
Transformasi Kaderisasi dari Tingkat Ranting
Penyelenggaraan Latihan Fasilitator tahun ini dirancang bukan sekadar rutinitas kalender kerja organisasi. Kegiatan ini lahir dari evaluasi mendalam atas kebutuhan riil di lapangan, di mana proses transisi kaderisasi seperti Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) hingga Latihan Kader Muda (Lakmud) menuntut kehadiran pemandu forum yang adaptif, komunikatif, dan menguasai dinamika psikologi remaja hari ini.
Ketua Panitia Pelaksana, Arjun Fahrezi Elsenansyah, menegaskan bahwa kurikulum pelatihan dipersiapkan secara komprehensif agar peserta tidak hanya menguasai teori kepemimpinan, melainkan piawai dalam manajemen kelas dan mitigasi kejenuhan audiens.
“Fasilitator adalah jembatan utama transfer nilai organisasi. Jika pemandunya kaku, maka pesan perjuangan yang mulia tidak akan sampai ke hati kader baru. Melalui Latihan Fasilitator 2026 ini, kami membekali rekan dan rekanita materi teknik public speaking, manajemen forum, simulasi ice breaking, hingga analisis kasus lapangan. Kami bersyukur, puluhan delegasi ranting yang hadir menunjukkan komitmen tinggi selama proses penggemblengan berlangsung di Banyumudal,” ungkap Arjun saat ditemui di sela-sela penutupan kegiatan.
Arjun menambahkan, pemilihan lokasi di kawasan Biogas Desa Banyumudal juga memberikan nuansa edukatif dan menyatu dengan lingkungan pedesaan, sehingga interaksi antarpeserta terbangun secara cair tanpa sekat birokrasi formal yang kaku.
Membangun Kemandirian dan Standarisasi Instruktur
Tantangan era digital menuntut organisasi kepemudaan bergerak cepat. Fenomena perubahan karakter generasi Z dan generasi Alpha memerlukan pendekatan andragogi (pendidikan orang dewasa) yang lebih partisipatif, dialogis, serta menyenangkan.
Ketua PAC IPNU Kecamatan Buayan, Naufal Abdi Valencia, menegaskan bahwa kemandirian kaderisasi di tingkat kecamatan bergantung penuh pada kualitas fasilitator lokal. Menurutnya, Buayan tidak boleh terus-menerus bergantung pada instruktur dari luar wilayah ketika menyelenggarakan pengkaderan dasar.
“Latihan Fasilitator ini merupakan investasi jangka panjang organisasi. Target kami jelas, yakni membangun standarisasi pendampingan forum yang seragam dan terukur di seluruh wilayah Buayan. Seorang fasilitator IPNU harus memiliki tiga fondasi utama: kedalaman wawasan Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, pemahaman mendalam AD/ART organisasi, serta kecakapan mengelola dinamika forum secara humanis. Kami ingin mencetak figur-figur pendamping yang santun, cakap berbicara, solutif saat forum buntu, serta mampu menjadi teladan moral bagi adik-adik di tingkatan ranting maupun komisariat,” tutur Naufal secara lugas.
Naufal optimis, alumni pelatihan ini nantinya langsung diterjunkan sebagai tim instruktur resmi PAC yang bertugas mengawal dan mendampingi penyelenggaraan Makesta di setiap desa se-Kecamatan Buayan.
Menciptakan Ruang Inklusif dan Penguatan Peran Pelajar Putri
Tak kalah krusial, perspektif penguatan kapasitas kader putri menjadi sorotan utama dalam agenda ini. Keterlibatan aktif pelajar putri dalam ruang diskursus kepemimpinan publik membutuhkan fasilitator yang peka terhadap kesetaraan belajar serta mampu menciptakan iklim forum yang aman, nyaman, dan memberdayakan.
Ketua PAC IPPNU Kecamatan Buayan, Nurul Efi, menekankan peran vital fasilitator putri dalam merawat ikatan emosional dan spiritual kader baru di tingkatan paling bawah.
“Rekanita di ranting butuh pendamping yang mampu merangkul, bukan memukul; mengajak, bukan menggurui. Melalui pelatihan terpadu ini, kami mendorong lahirnya fasilitator IPPNU yang berdaya kritis tinggi, bermental tangguh, dan memiliki empati mendalam dalam memahami dinamika remaja perempuan desa. Harapan besar kami, sepulang dari Banyumudal, para delegasi ranting ini pulang membawa rasa percaya diri baru untuk menghidupkan kembali majelis-majelis belajar di desanya masing-masing. Kaderisasi IPPNU Buayan harus semakin rapi, anggun secara akhlak, dan progresif dalam karya,” jelas Nurul Efi penuh harap.
Menjaga Estafet Perjuangan Nahdliyin
Rangkaian acara Latihan Fasilitator PAC IPNU IPPNU Buayan ditutup dengan sesi kontrak belajar serta pembacaan ikrar komitmen fasilitator. Kehadiran jajaran Pembina PAC di akhir sesi menegaskan dukungan penuh para sesepuh terhadap regenerasi kepemimpinan muda Nahdliyin di wilayah pesisir selatan Kebumen tersebut.
Dengan tuntasnya pelatihan intensif ini, PAC IPNU IPPNU Buayan optimis menatap babak baru tata kelola organisasi yang lebih modern, tertib administrasi, serta kokoh secara ideologis. Generasi fasilitator yang lahir dari Biogas Banyumudal siap menjadi garda terdepan pengawal estafet perjuangan pelajar Islam Nusantara yang moderat, toleran, dan berwawasan kebangsaan luas.
- Penulis: Siti Mukaromah
- Editor: NUOKe

Saat ini belum ada komentar