Pagar Nusa NU: Sejarah, Arti Lambang, dan Ketua Umum dari Masa ke Masa
- account_circle NUOKe
- print Cetak

Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa merupakan badan otonom (banom) resmi di bawah naungan Jam’iyah Nahdlatul Ulama yang memikul mandat besar sebagai benteng kultural dan fisik kaum santri. Mengusung nama yang bermakna luhur “Pagarnya NU dan Bangsa”, organisasi ini didirikan untuk melaksanakan arah kebijakan NU dalam menggali, membina, mengembangkan, serta melestarikan seni budaya, tradisi bela diri pencak silat, ilmu ketabiban (pengobatan alternatif), hingga pengabdian sosial kemasyarakatan.
Bagi kalangan santri, Pagar Nusa memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Organisasi ini bukan sekadar wadah olah fisik di atas matras kejuaraan, melainkan ruang pembinaan mental spiritual yang menyatukan jurus kanuragan, kedalaman olah batin ilmu hikmah, etika kepesilatan luhur, dan komitmen kebangsaan berlandaskan akidah Islam Ahlusunnah wal Jamaah demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Titik Tolak dan Sejarah Pendirian
Kelahiran gerakan pencak silat Pagar Nusa bermula dari keprihatinan mendalam para ulama dan kiai NU terhadap dinamika persilatan di tanah air pada era 1980-an. Sejak ratusan tahun silam, pondok pesantren di kepulauan Nusantara hakikatnya berfungsi ganda: sebagai kawah candradimuka ilmu syariat sekaligus padepokan bela diri. Seorang kiai pengasuh pesantren pada masa lalu hampir selalu merangkap sebagai pendekar yang menguasai olah gerak fisik dan ilmu tenaga dalam.
Namun memasuki dekade 1980-an, peran pesantren sebagai episentrum bela diri mulai mengalami kemunduran. Di sisi lain, bermunculan beragam padepokan dan aliran pencak silat di luar pesantren dengan variasi latar belakang keyakinan, akidah, dan tradisi. Banyak di antara padepokan tersebut cenderung bersifat tertutup (eksklusif) serta kerap saling mengklaim sebagai perguruan yang terkuat dan paling unggul. Para ulama dan kiai prihatin melihat potensi perpecahan antarpendekar santri yang kala itu tercerai-berai tanpa adanya naungan payung bersama.
Kondisi tersebut memantik tekad Dr. KH. Suharbillah, seorang pendekar silat asal Surabaya, Jawa Timur. Beliau berinisiatif sowan dan memohon petunjuk serta fatwa kepada ulama kharismatik KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang. Menanggapi kegelisahan Kiai Suharbillah, Gus Mus menyarankan agar gagasan penyatuan para pendekar santri ini dikonsultasikan langsung kepada KH. Abdullah Maksum Jauhari (Gus Maksum) di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri sosok ulama yang dikenal luas memiliki karomah, kesaktian, serta reputasi persilatan yang sangat disegani.
Gagasan tersebut kemudian ditindaklanjuti lewat serangkaian konsolidasi bersejarah:
- Musyawarah Pondok Pesantren Tebuireng (27 September 1985)
Para ulama, praktisi silat, dan tokoh bela diri dari berbagai wilayah berkumpul di Pesantren Tebuireng, Jombang. Forum ini dihadiri perwakilan pendekar asal Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk, Kediri, Cirebon, hingga pulau Kalimantan. Musyawarah menghasilkan kesepakatan bulat untuk mendirikan organisasi bela diri resmi di bawah naungan NU. Langkah ini kemudian diperkuat lewat terbitnya Surat Keputusan Resmi Pembentukan Tim Persiapan Pendirian Perguruan Pencak Silat Milik NU yang disahkan pada 27 Rabi’ul Awwal 1406 H / 10 Desember 1985 dan berlaku hingga 15 Januari 1986.
- Musyawarah Akbar Pondok Pesantren Lirboyo (3 Januari 1986 / 22 Rabi’ul Akhir 1406 H)
Pertemuan akbar di Lirboyo menjadi tonggak deklarasi berdirinya organisasi secara de facto. Musyawarah ini menyepakati susunan Pengurus Harian Jawa Timur yang menjadi cikal bakal pengurus pusat nasional, dengan menunjuk Gus Maksum secara aklamasi sebagai Ketua Umum pertama. Nama “Pagar Nusa” diusulkan oleh Ketua PWNU Jawa Timur KH. Anas Thohir, yang mana frasa tersebut digagas oleh KH. Mujib Ridlwan asal Surabaya.
- Pengesahan Resmi PBNU (16 Juli 1986 / 9 Dzulhijjah 1406 H)
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang saat itu dipimpin oleh duet ulama legendaris, KH. Achmad Siddiq selaku Rais ‘Aam dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selaku Ketua Umum Tanfidziyah, meresmikan Pencak Silat Pagar Nusa melalui Surat Keputusan resmi sebagai badan otonom di bawah Jam’iyah NU.
- Dinamika Organisasi dan Musyawarah Nasional
Pagar Nusa menggelar Musyawarah Nasional (Munas) I pada 20–23 September 1991 di Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Kraksaan, Probolinggo. Momentum tersebut bertepatan dengan 100 hari wafatnya tokoh pengasuh pesantren, KH. Saifurrizal, sehingga pembukaan munas diiringi doa tahlil akbar.
Status keorganisasian Pagar Nusa sempat mengalami pasang surut: pada Muktamar NU ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya (1994), Pagar Nusa berstatus badan otonom, lalu sempat disesuaikan menjadi lembaga formal pada Muktamar NU ke-30 di Lirboyo, Kediri (1999), sebelum akhirnya ditegaskan kembali sebagai badan otonom penuh.
Selanjutnya, Munas II dihelat di Padepokan Pencak Silat TMII Jakarta pada 22 Januari 2001 yang dibuka langsung oleh Presiden RI ke-4, KH. Abdurrahman Wahid. Forum nasional tersebut merumuskan tiga pilar strategis, yaitu: perbaikan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), standardisasi perangkat Pasukan Inti (Pasti) serta kelengkapan seragam, serta penyempurnaan dan pendokumentasian jurus-jurus resmi Pagar Nusa ke dalam bentuk cetak maupun rekaman kaset dan VCD.
Makna Filosofis Lambang Pagar Nusa
Identitas lambang kebesaran Pagar Nusa diciptakan oleh KH. Mujib Ridlwan, putra dari KH. Ridlwan Abdullah (pencipta lambang Nahdlatul Ulama). Melalui perenungan spiritual, tabayun, dan musyawarah mufakat, seluruh ornamen pada lambang Pagar Nusa dirancang sarat makna teologis dan patriotik:
- Kurva Segilima: Melambangkan dua fondasi pokok kehidupan beragama dan berbangsa, yakni lima rukun Islam (syahadat, salat, puasa, zakat, haji) dan lima sila falsafah Pancasila.
- Tiga Garis Putih Sejajar: Berada di tepi dalam kurva segilima, menyimbolkan trilogi kerangka dasar ajaran Islam yang menjadi pedoman hidup kaum Nahdliyin, yakni rukun Iman, rukun Islam, dan rukun Ihsan.
- Warna Dasar Hijau: Ciri khas warna NU yang melambangkan kesuburan dan ketenteraman bumi Nusantara, kedamaian hati, serta kemakmuran lahir dan batin, duniawi maupun ukhrawi.
- Warna Putih: Melambangkan kesucian rohani, ketulusan niat berkhidmah, ketegasan memegang prinsip kebenaran, serta keberanian moral dalam membela kaum tertindas.
- Tulisan Pencak Silat Nahdlatul Ulama: Menegaskan garis komando dan keterikatan mutlak bahwa pergerakan ini bernaung di bawah naungan jam’iyah NU.
- Sembilan Bintang: Mengandung dua tafsir mendalam. Pertama, melambangkan kemuliaan rekam jejak dakwah Walisongo di tanah Nusantara. Kedua, satu bintang utama yang besar di posisi tengah melambangkan derajat Rasulullah Muhammad SAW; empat bintang di sisi kanan mewakili sahabat Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib); sedangkan empat bintang di sisi kiri melambangkan komitmen mengikuti empat imam mazhab fikih (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali).
- Bola Dunia: Menegaskan karakter pergerakan yang universal, terbuka, dan mampu beradaptasi di pentas internasional, sekaligus menggambarkan persebaran kader Pagar Nusa yang merambah berbagai belahan dunia.
- Senjata Trisula: Melambangkan senjata pusaka tertua di bumi Nusantara. Kehadiran trisula menegaskan misi Pagar Nusa untuk menggali dan menjaga warisan ilmu bela diri murni milik bangsa Indonesia.
- Pita Bertuliskan Laa Ghaaliba Illa Billah: Terletak melingkar di bagian bawah bola dunia dan trisula. Kalimat berbahasa Arab ini diusulkan oleh Kiai Suharbillah terinspirasi oleh semangat kejayaan peradaban Islam di Kordoba, Spanyol. Redaksi awalnya berbunyi la ghaliba illallah, lalu disempurnakan oleh KH. Sansuri Badawi menjadi la ghaliba illa billah (semakna dengan la hawla wa la quwwata illa billah), yang berarti: “Tidak ada yang menang kecuali dengan pertolongan Allah”.
Motto ini menjadi benteng spiritual agar setiap pendekar Pagar Nusa pantang bersikap sombong (takabur). Ketua Umum Pagar Nusa periode 2012–2017, KH. Aizzudin Abdurrahman (Gus Aiz), menerangkan bahwa kalimat tersebut memuat derajat kepasrahan total (tawakal): setinggi apa pun kesaktian fisik seseorang, ia tidak berdaya apa-apa tanpa perlindungan dan izin Allah SWT. Prinsip ini bertaut erat dengan pitutur luhur Gus Maksum yang melegenda di kalangan pendekar: “Pantang menantang walau kepada lawan, pantang mundur kalau ditantang.”
“IPSI-nya NU”: Payung Ratusan Aliran Bela Diri Tradisional
Julukan “IPSI-nya NU” melekat kuat pada Pagar Nusa karena karakteristiknya yang sangat inklusif. Pagar Nusa berfungsi layaknya federasi pencak silat bagi kalangan Nahdliyin, merangkul dan mengayomi puluhan hingga ratusan padepokan silat lokal yang awalnya berdiri secara terpisah. Setiap perguruan yang berafiliasi tetap diberi ruang merawat jurus khas, adat, dan identitas keilmuannya masing-masing.
Struktur Kepengurusan
Pagar Nusa mengoperasikan struktur organisasi yang terorganisasi secara rapi dari pusat metropolitan hingga pelosok desa dan luar negeri:
- Pimpinan Pusat (PP): Badan kepemimpinan tingkat nasional yang berkedudukan di ibu kota negara.
- Pimpinan Wilayah (PW): Struktur kepengurusan pada tingkat provinsi di seluruh wilayah Indonesia.
- Pimpinan Cabang Istimewa (PCI): Struktur representatif resmi bagi kader, santri, dan pengurus di luar negeri.
- Pimpinan Cabang (PC): Struktur organisasi di tingkat kabupaten atau kota administratif.
- Pimpinan Anak Cabang (PAC): Struktur operasional yang mengawal kegiatan di tingkat kecamatan.
- Pimpinan Rayon: Satuan berbasis komunitas yang didirikan khusus di lingkungan pondok pesantren, sekolah, kampus, maupun madrasah.
- Pimpinan Ranting: Ujung tombak pengaderan akar rumput yang beroperasi di wilayah desa atau kelurahan.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa Dari Masa Ke Masa
Sejak kelahirannya pada tahun 1986, kepemimpinan Pagar Nusa digerakkan oleh deretan ulama, cendekiawan, dan tokoh pendekar yang konsisten merawat tradisi bela diri pesantren:
- KH. Abdullah Maksum Jauhari / Gus Maksum (Periode 1986–2003)
Pendiri utama dan peletak batu pertama fondasi keilmuan Pagar Nusa. Gus Maksum mengonsolidasikan ratusan perguruan pesantren, menanamkan nilai moral kependekaran santri, dan memimpin organisasi selama 17 tahun.
- Dr. KH. Suharbillah (Periode 2003–2007)
Pendekar senior asal Surabaya yang menjadi pemrakarsa awal pembentukan Pagar Nusa dan penggagas lambang organisasi. Di bawah kepemimpinannya, legalitas formal dan keselarasan internal kian dimantapkan.
- Drs. KH. Fuad Anwar, M.Si. (Periode 2007–2012)
Mengarahkan organisasi pada fase perapian administrasi birokrasi, penataan legal-formal kelembagaan di berbagai daerah, dan standardisasi manajerial cabang.
- KH. Aizzudin Abdurrahman / Gus Aiz (Periode 2012–2017)
Menitikberatkan kepemimpinan pada revitalisasi etika spiritualitas pendekar, penguatan filosofi Laa Ghaaliba Illa Billah, serta konsolidasi kultural antar-kiai pendekar se-Nusantara.
- Muchamad Nabil Haroen / Gus Nabil (Periode 2017–sekarang)
Membawa terobosan modernisasi tata kelola organisasi, integrasi basis data kader secara digital, pengembangan sarana prasarana olahraga prestasi, hingga diplomasi budaya persilatan di kancah internasional.
Standardisasi Seragam dan Pasukan Inti (Pasti)
Pagar Nusa menerapkan tata tertib pemakaian pakaian dinas dan seragam resmi yang disesuaikan dengan fungsi operasional di lapangan:
- Seragam Atlet dan Anggota Reguler: Terdiri dari setelah celana dan baju silat longgar berwarna hitam. Dilengkapi badge Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di dada sebelah kanan serta lambang resmi Pagar Nusa di dada sebelah kiri, dipadu sabuk kebesaran kain warna hijau yang disimpul hidup pada pinggang sebelah kanan.
- Seragam Pasukan Inti (Pasti) Putra: Korps garda pengamanan khusus internal ini memakai kemeja lengan panjang hitam berpola PDH, celana hitam formal, sepatu dinas PDH hitam, serta atribut dan brevet Pasti yang telah distandardisasi.
- Seragam Pasukan Inti (Pasti) Putri: Korps srikandi Pasti yang pertama kali bertugas secara resmi pada acara Istighatsah Nasional PBNU di Lapangan Kodam V Brawijaya Surabaya pada 15 Mei 2003 ini mengenakan blazer (jas) formal hitam, jilbab hitam, celana kain hitam, dan sepatu dinas PDH hitam.
- Seragam Pengurus: Menggunakan setelah baju dan celana panjang hitam, dilapisi jas formal berwarna putih, memakai kopiah (peci) hitam, dan bersepatu dinas PDH hitam.
- Seragam Tim Khos (Khusus): Berupa seragam pengurus yang disempurnakan dengan penambahan emblem atau simbol kehormatan keilmuan khusus.
- Seragam Kebesaran: Berupa jubah agung panjang berwarna hitam pekat yang secara protokol khusus hanya dikenakan pada momentum perhelatan resmi tingkat nasional.
Panca Prasetya: Sumpah Satya Pendekar Santri
Dalam mendidik raga dan menempa jiwa anggotanya, Pagar Nusa mewajibkan pembacaan sumpah janji setia Panca Prasetya Pagar Nusa bagi setiap pendekar yang dibaiat:
- Bertakwa kepada Allah SWT.
- Berbakti kepada nusa dan bangsa.
- Menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.
- Mempertahankan kebenaran dan mencegah kemungkaran.
- Mempertahankan paham Ahlusunnah wal Jamaah.
Melalui ikrar Panca Prasetya ini, Pagar Nusa menunjukkan jati dirinya secara utuh: sebuah gerakan bela diri kultural yang mendudukkan kemampuan fisik di bawah kendali ketakwaan, menjaga marwah ulama, serta senantiasa siap siaga menjadi pagar pelindung bagi bangsa dan tumpah darah Indonesia.
- Penulis: NUOKe
- Sumber: Berbagai Sumber

Saat ini belum ada komentar