Sejarah Lengkap JATMAN NU: Tokoh Pendiri, Struktur Organisasi, dan Hasil Muktamar
- account_circle NUOKe
- print Cetak

Gerakan tasawuf di Indonesia memiliki akar sejarah yang kokoh dan terorganisasi rapi. Di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), wadah bagi para pengamal tarekat berhimpun di bawah naungan Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN).
Melacak sejarah kelahirannya tidak lepas dari temuan dokumen autentik berupa manuskrip bertajuk Risalah al-Mu’tamar al-Awwal yang tersimpan melalui KH Chalwani Nawawi Berjan Purworejo. Manuskrip ini mencatat secara terperinci peristiwa perintisan dan muktamar pertama yang digelar di Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah.
Manuskrip Risalah al-Mu’tamar al-Awwal 1957
Dokumen historis ini memuat detail visual dan filosofis penting dari perintisan awal organisasi:
- Kutipan Al-Qur’an pada sampul: Bagian jilid depan tertera Surah Al-Jinn ayat 16:
“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (Islam, Iman, Ihsan) kami benar-benar akan memberi minum kepada mereka yang segar.”
- Daftar tarekat: Bagian tengah memuat 44 nama tarekat mu’tabarah yang ditulis secara melingkar, mengitari ilustrasi tumpukan kitab-kitab tasawuf klasik rujukan utama.
- Titimangsa resmi: Di jilid kanan tercantum judul acara berbahasa Arab: al-Mu’tamar al-Awwal li-‘ulamai ahlith thariqah al-Qadiriyah wan-Naqsyabandiyah wa-sairi al-Thuruq al-Mu’tabarah fi-Tegalrejo Magelang Jawa al-Wustha 12-13 Oktober 1957. Di bagian bawah tertulis Risalah al-Mu’tamar al-Awwal.
Fase Awal (1955–1956): Keresahan Sanad dan Ikhtiar Para Kiai
Proses kelahiran organisasi berakar dari keresahan mendalam para kiai terhadap maraknya kelompok tarekat yang silsilah maupun sanad kemursyidannya tidak jelas.
Gagasan persatuan bermula dari pertemuan silaturahmi KH Nawawi (Berjan, Purworejo) ke kediaman Kiai Masruhan Ihsan (Brumbung, Mranggen, Demak) pada 13 Desember 1955. Keduanya merasa memperoleh ilham serupa untuk menyatukan barisan ahli tarekat berlandaskan uluwwi al-himmah (cita-cita luhur).
Langkah penertiban sanad ini kian konkret ketika para kiai menemui Kiai Muslih di Mranggen, Demak. Rencana tersebut kemudian dimatangkan dalam forum haul Kiai Ibrahim Brumbung pada 12 September 1956 di hadapan masyayikh sepuh, seperti KH Raden Asnawi Kudus, KH Ma’shum Lasem, KH Mandzur, KH Junaidi Yogyakarta, dan KH Abdurrahman Kendal. Pada Haul almarhum Kiai Zarkasi Berjan (17 Maret 1957), dibentuklah sekretariat panitia sementara.
Diplomasi Kiai dan Peran Sentral Pesantren API Tegalrejo
Momen krusial perhelatan kongres terjadi saat KH Chudlori, pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo sekaligus kawan sekamar KH Nawawi saat mondok di Lasem, menanyakan kelanjutan rencana kongres:
“Bagaimana rencana kongres para wali-wali itu, jadi atau tidak?” tanya Kiai Chudlori.
“Sepertinya tidak jadi. Belum ada gambaran untuk pembiayaan,” jawab Kiai Nawawi.
“Jangan begitu, masa para wali mau pertemuan tidak jadi, malu-maluin saja. Sudah nanti biaya biar saya yang mencaricarikan,” tegas Kiai Chudlori.
Meskipun bukan pengamal aktif tarekat tertentu, kesanggupan KH Chudlori menjamin tempat dan logistik menjadi kunci utama terselenggaranya perhelatan bersejarah tersebut.
7 Alasan Utama Pendirian Organisasi Tarekat
Manuskrip Risalah al-Mu’tamar al-Awwal mencatat tujuh urgensi mendesak didirikannya wadah persatuan tarekat:
- Membendung tarekat batil: Menjamurnya amalan tarekat menyimpang yang bahkan sempat menggelar kongres tandingan hingga tiga kali, sehingga pengamal ajaran yang benar (haq) harus bersatu agar tidak kalah oleh kelompok kecil yang terorganisasi.
- Penertiban legalitas kemursyidan: Banyak figur mengaku sebagai khalifah tarekat (seperti Qadiriyah atau Naqsyabandiyah) tanpa izin resmi (ma’dhun min al-shaykh) serta minim pemahaman sanad.
- Meluruskan stigma negatif: Ulama tarekat kerap dituding apolitis, pasif, hingga dituduh sebagai penyebab mundurnya kemerdekaan karena dinilai hanya mengandalkan zikir tanpa ikhtiar lahiriah.
- Pembinaan jutaan jemaah: Pengikut tarekat tersebar luas dari kota hingga pelosok. Ketaatan murid kepada guru diarahkan agar sejalan sebagai warga negara yang patuh hukum, negara, dan agama.
- Kekuatan spiritual bangsa: Menjadikan kedalaman rohani ulama tarekat sebagai benteng pertahanan spiritual Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
- Koreksi penyimpangan syariat: Menertibkan praktik oknum mursyid tanpa dasar fikih memadai yang melanggar batasan syariat, seperti ritual tawajuh beradu kening atau bersalaman tanpa tabir pembatas dengan nonmahram (ajnabiyah).
- Mengikis fanatisme golongan: Menghilangkan sikap saling cela, rasa ujub (ana khairun minhu), dan perebutan pengaruh antarpengamal tarekat melalui satu ikatan ukhuwah.
Kongres Pertama (1957): Lahirnya JATMAN dan Duet Kepemimpinan Awal
Kongres alim ulama ahli tarekat digelar di Tegalrejo, Magelang, mulai 10 hingga 13 Oktober 1957 (dengan rangkaian pembukaan sidang utama pada 12 Oktober malam). Perhelatan ini secara resmi melahirkan organisasi bernama Jam’iyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah (JATMAN).
Acara dipimpin oleh Andi Patopay (Bupati Purwodadi) dan dihadiri tokoh-tokoh penting nasional seperti KH Masykur, KH Saifuddin Zuhri, KH Bisri Syamsuri, serta utusan Kementerian Agama. Tercatat 1.601 peserta utusan resmi hadir dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta dihadiri lebih dari 20.000 masyarakat umum di area luar sidang.
Penyusunan kepengurusan definitif diserahkan kepada Presidium Enam Tokoh: KH Mandzur Temanggung, KH Chudlori Magelang, KH Usman Surabaya, KH Hafidz Rembang, KH Nawawi Purworejo, dan KH Masruhan Demak.
Melalui salat istikharah, para kiai memperoleh isyarat mimpi yang sama: melihat KH Baidlowi bin Abdul Aziz Lasem (mursyid Thariqah Syattariyah wa Syadziliyah) mengimami salat jemaah di Masjidil Haram. KH Baidlowi akhirnya ditetapkan sebagai Rais Akbar pertama, didampingi KH Zubair Umar Jailani Salatiga sebagai Ketua pertama.
Integrasi Struktural dengan NU dan Penambahan Nama An-Nahdliyyah (1979–1980)
Perkembangan penting terjadi dua dekade kemudian. Pada Muktamar ke-26 NU di Semarang tahun 1979, para sesepuh tarekat seperti KH Muslih Abdul Rahman Mranggen, KH Turaichan Adjuri, dan KH Adlan Ali mengajukan usulan pada sidang pleno Syuriyah PBNU. Usulan tersebut bertujuan agar jam’iyyah tarekat menyatu secara struktural dengan garis perjuangan Ahlussunnah wal-Jama’ah An-Nahdliyyah.
Gagasan ini disambut resmi melalui Surat Keputusan PBNU Nomor 137/Syur.PB/V/1980. Organisasi resmi berganti nama menjadi Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) dan berstatus sebagai badan otonom (banom) di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Penambahan kata an-Nahdliyyah memiliki dua landasan utama:
- Prinsip ajaran: Memastikan komitmen ibadah dan tasawuf seluruh jemaah berjalan di atas haluan Ahlussunnah wal-Jama’ah bermadzhab empat, menjaga ajaran salafus salih, serta berkontribusi aktif dalam pembangunan NKRI.
- Distingsi identitas: Menjadi pembeda yang tegas dari perkumpulan tarekat lain yang tidak berafiliasi dengan jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Struktur Berjenjang Kepengurusan JATMAN
Mengadopsi tata kelola jam’iyyah NU, kepengurusan JATMAN beroperasi secara berjenjang dari pusat hingga desa:
- Tingkat Pusat: Dinamakan Idarah Aliyyah JATMAN.
- Tingkat Provinsi: Dinamakan Idarah Wustha JATMAN.
- Tingkat Kabupaten/Kota: Dinamakan Idarah Syu’biyah JATMAN.
- Tingkat Kecamatan: Dinamakan Idarah Ghusniyyah JATMAN.
- Tingkat Desa/Kelurahan: Dinamakan Idarah Saafiyyah JATMAN.
Di setiap tingkatan, kepengurusan ditopang oleh empat unsur fungsional utama, yaitu Mustafad, Ifadliyyah, Imdla’iyyah, dan Imdadiyyah.
Rekam Jejak Muktamar JATMAN (I–XIII)
Dinamika permusyawaratan tertinggi JATMAN terdokumentasi dalam rangkaian muktamar dan kongres:
- Muktamar I: Tegalrejo, Magelang (10–13 Oktober 1957)
- Muktamar II: Pekalongan (9 November 1959)
- Muktamar III: Tulungagung (28–30 Juli 1963)
- Muktamar IV: Semarang (28–30 Oktober 1968)
- Kongres V: Madiun (2–5 Agustus 1975)
- Kongres VI: Kraksaan, Probolinggo (5–7 Desember 1984)
- Muktamar VII: Mranggen, Demak (15 Desember 1989)
- Muktamar VIII: Cabean, Pasuruan (27–31 Agustus 1995)
- Muktamar IX: Pekalongan (26–28 Februari 2000)
- Muktamar X: Pekalongan (25–30 Maret 2005)
- Muktamar XI: Malang (10–13 Januari 2012)
- Muktamar XII: Pekalongan (15–18 Januari 2018)
- Kongres XIII: Asrama Haji Donohudan, Boyolali (21–22 Desember 2024)
Kini, JATMAN terus menjalankan mandat historisnya sebagai episentrum dakwah tasawuf mu’tabarah, mengawal keabsahan sanad yang bersambung (muttashil) kepada Rasulullah saw., sekaligus menjadi pilar spiritual yang mengokohkan persatuan bangsa.
- Penulis: NUOKe
- Sumber: Ensiklopedi NU, Berbagai Sumber

Saat ini belum ada komentar