Kisah Al-Fatih Jadi Inspirasi Ansor Klirong Seimbangkan Spiritual dan Strategi Organisasi
- account_circle Muhammad Adnan
- print Cetak

Lantunan sholawat dari tim hadroh MDS Rijalul Ansor Klirong mengiringi pembukaan acara rutin Malam Kamis Pahing dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Bendogarap, Rabu (16/9/2026). (Foto: Dok. PAC GP Ansor Klirong)
KLIRONG, NUOKe — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Klirong kembali menggelar agenda rutin Malam Kamis Pahing. Kali ini, pertemuan berkala tersebut terasa lebih istimewa karena dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dipusatkan di Ranting Desa Bendogarap, Kecamatan Klirong, Rabu (16/9/2026) malam.
Lantunan selawat dari grup hadroh Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Kecamatan Klirong mengawali jalannya praacara dengan khidmat. Suasana religius kian terasa saat ratusan jemaah dan kader larut dalam pembacaan tahlil yang dipimpin langsung oleh Rais Syuriah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Bendogarap, Kiai Ahmad Arifin.
Refleksi Maulid: Dari Akhlak Personal Menuju Kemandirian Ekonomi
Hadir memberikan mauidhoh hasanah, Pembina PAC GP Ansor Klirong, Abah Anas Makkinudin asal Jogosimo, menekankan esensi peringatan maulid sebagai momentum meneladani Rasulullah SAW secara menyeluruh. Keteladanan tersebut, menurutnya, tidak sebatas pada kesalehan ritual dan akhlak harian, melainkan juga harus menyentuh tataran gerakan organisasi, khususnya kemandirian ekonomi kader.
“Meneladani Nabi berarti siap bertransformasi. Kader Ansor hari ini dituntut tidak hanya kuat secara ideologi dan solid dalam barisan, tetapi juga harus mapan dalam sektor perekonomian keluarga serta organisasi,” ujar Abah Anas di hadapan para kader.

Abah Anas Makkinudin, menyampaikan mauidhoh hasanah seputar keteladanan Nabi Muhammad SAW dan penguatan kemandirian organisasi pada rutinan Malam Kamis Pahing di Desa Bendogarap, Rabu (16/9/2026). (Foto: Dok. PAC GP Ansor Klirong)
Mengambil Pelajaran dari Taktik Muhammad Al-Fatih
Dalam uraiannya, Abah Anas turut mengangkat kisah sejarah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih. Sang penakluk legendaris tersebut dikenal memadukan kematangan taktik militer dengan kekuatan spiritual, salah satunya lewat tradisi peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW guna membakar motivasi serta menyatukan barisan pasukannya hingga meraih kemenangan bersejarah.
Pelajaran penting dari narasi tersebut adalah urgensi menyeimbangkan ikhtiar lahiriah dan batiniah. Menurutnya, manajemen organisasi modern maupun roda kehidupan pribadi kader tetap memerlukan ruang spiritualitas yang kuat sebagai penopang moralitas.
“Strategi sehebat apa pun akan rapuh tanpa asupan rohani. Nilai-nilai religius inilah yang menjadi jangkar agar gerak jasmani dan daya pikir kader tetap terarah pada maslahat umat,” imbuhnya.
Soliditas Banser dan Tradisi Mayoran
Semarak malam peringatan tersebut semakin hidup melalui penampilan atraktif dari personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Klirong yang memperlihatkan kedisiplinan serta militansi khas kader inti GP Ansor.
Sebagai pamungkas, kegiatan ditutup dengan tradisi mayoran atau makan bersama ala santri (kepungan). Di atas hamparan daun pisang dan nampan yang tersaji, seluruh pengurus, anggota Banser, kiai kampung, serta warga setempat duduk melingkar tanpa sekat, menegaskan kekeluargaan dan guyub rukun yang menjadi ciri khas warga nahdliyin.
- Penulis: Muhammad Adnan
- Editor: NUOKe

Saat ini belum ada komentar