Terbaru
light_mode
Beranda » Banom » Sejarah ISHARI NU: Dari Tameng Komite Hijaz hingga Makna Seni

Sejarah ISHARI NU: Dari Tameng Komite Hijaz hingga Makna Seni

  • account_circle NUOKe
  • print Cetak

Gemuruh tabuhan terbang berpadu serasi dengan sahutan shalawat dan entakan tepuk tangan yang ritmis. Lebih dari sekadar kesenian tradisional, Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) menyimpan narasi panjang tentang dakwah, taktik diplomasi kebangsaan, dan laku spiritual kaum santri.

Perjalanan ISHARI membuktikan bahwa ekspresi seni Islam di Nusantara mampu menjadi sarana perlawanan senyap terhadap tirani kolonial sekaligus wadah pembinaan batin umat.

Akar Sejarah: Lahirnya Hadrah Durahiman di Pasuruan

Akar ISHARI bermula dari Jam’iyyah Hadrah, sebuah perkumpulan pembaca sirah nabawiyah dan selawat yang mengadopsi bait-bait Kitab Maulid Syaroful Anam serta Kitab Diwan Al-Hadroh.

Pada 1918, kesenian ini direvitalisasi oleh ulama karismatik asal Pasuruan, KH. Abdurrokhim bin Abdul Hadi. Beliau mengajarkan teknik pukulan rebana, olah vokal, dan gerakan khas kepada para santrinya. Dari jejaring santri Pasuruan inilah kesenian hadrah menyebar luas dan masyhur dengan sebutan Hadrah Durahiman.

Karakter utama tradisi ini bertumpu pada suara bening sang pembawa syair, sahut-sahutan zikir para jemaah, serta gestur dinamis sebagai wujud rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad saw.

Tameng Penyamaran Komite Hijaz dan Taktik Hadapi Penjajah

Di era Hindia Belanda, pemerintah kolonial menerapkan pembatasan ketat terhadap hak berserikat dan berkumpulnya kaum pribumi. Mengumpulkan massa untuk agenda politik atau konsolidasi keumatan memiliki risiko penangkapan yang tinggi.

Melihat celah tersebut, para ulama memanfaatkan izin pementasan hadrah sebagai taktik kamuflase:

  • Penyamaran Rapat Komite Hijaz (1926): Salah satu momentum krusial lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) berpusat di kediaman KH. Abdul Wahab Hasbullah di Surabaya. Ketika para kiai menggelar musyawarah tertutup pembentukan Komite Hijaz di dalam rumah, kelompok Jam’iyyah Hadrah terus menabuh rebana dan melantunkan selawat di serambi luar. Gemuruh bunyi hadrah sukses mengalihkan perhatian intelijen Belanda sehingga rapat bersejarah itu luput dari intervensi kolonial.
  • Wadah Konsolidasi Umat: Forum hadrah secara konsisten dijadikan sarana bertukar kabar, bermusyawarah, dan menyusun strategi kemerdekaan berkedok perhelatan budaya.

Transformasi Organisasi: Dari “Republik” Menuju Banom NU

Sepeninggal KH. Abdurrokhim, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, KH. Muhammad. Kebutuhan akan payung hukum dan wadah terstruktur mendorong lahirnya federasi resmi pada 15 Rajab 1378 H atau bertepatan dengan 23 Januari 1959 M.

Pendirian wadah ini diprakarsai oleh barisan tokoh puncak PBNU, di antaranya:

  • KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam PBNU)
  • KH. Bisri Syamsuri (Rais PBNU)
  • KH. Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah PBNU)
  • KH. Saifuddin Zuhri
  • KH. Ahmad Syaikhu
  • KH. Muhammad bin Abdurrokhim (Pasuruan)

Nama yang disepakati kala itu adalah Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (ISHARI). Sematan kata Republik difungsikan secara ideologis untuk membentengi kalangan santri dari infiltrasi pengaruh gerakan komunisme pada dekade 1950–1960-an.

Seiring pergeseran iklim politik nasional, kata Republik resmi dihapus melalui Musyawarah Nasional (Munas) I di Pesantren Sunan Drajat, Lamongan pada 1995, sehingga nama resminya berganti menjadi Ikatan Seni Hadrah Indonesia.

Pasang Surut Regulasi Internal

ISHARI digerakkan melalui dua poros kepemimpinan: Majelis Hadi (penjaga marwah spiritual dan teknis hadrah) serta Majelis Tanfidziyah (pelaksana manajerial). Dinamika organisasi tercatat berulang kali terjadi:

  • Perpecahan Internal (1959–1966): Pergolakan masa transisi sempat membelah tubuh organisasi menjadi dua faksi.
  • Muktamar NU ke-30 (Lirboyo, 1999): ISHARI ditempatkan di bawah naungan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI).
  • Muktamar NU ke-31 (Boyolali, 2004): Pembinaan dialihkan ke Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN).
  • Muktamar NU ke-32 (Makassar, 2010): ISHARI sempat tidak tercantum dalam AD/ART NU.
  • Muktamar NU ke-33 (Jombang, 2015): Status ISHARI dipulihkan secara permanen sebagai Badan Otonom (Banom) NU.

Makna Filosofis: Tiga Ragam Irama dan Ketukan Rebana

Ketukan rebana ISHARI bukan sekadar pola nada instrumen perkusi, melainkan kristalisasi prinsip akidah dan syariat Islam yang terbagi ke dalam tiga jenis irama:

  • Irama Juz: Memiliki tempo lambat yang konsisten dengan pola bunyi dua ketukan berulang (tak-dik, tak-tak). Dinamai “Juz” yang berarti bagian, irama ini melambangkan keteguhan memegang dua kalimat syahadat yang pantang terpisahkan dari jiwa seorang mukmin. Bunyi pukulannya menyelaraskan asma Hu-Allah atau lafaz Muhammad.
  • Irama Yahum: Mengusung tempo sedang yang lebih dinamis dengan ketukan tangan berbunyi tak-dik-tak. Namanya berakar dari seruan Ya Huwa (“Dialah Tuhanku”). Irama ini menjadi representasi tauhid Lailahaillallah dan risalah Muhammadur Rasulullah.
  • Irama Tareem: Bergerak dalam tempo sangat cepat lewat ketukan bertubi tak-dik-tak. Namanya diambil dari kota suci Tareem di Hadramaut, Yaman. Variasinya mencakup tiga corak, yaitu Tareem Inat (tak-tak-dik), Tareem Rojaz (dik-tak-tak-tak), serta Tareem Biasa (tak-dik-tak). Secara filosofis, maknanya senada dengan Irama Yahum.

Khusus pada ketukan Yahum, aransemen pukulan dibagi ke dalam tiga lapis instrumen rebana yang saling melengkapi:

  1. Krotokan (Wedokan): Terdiri dari lima entakan (taktaktaktak-dik), menyimbolkan pengamalan lima rukun Islam.
  2. Penyela (Tengahan): Memiliki empat entakan (tak-tak-tak-dik), mencerminkan empat pilar sumber hukum Islam, yakni Al-Qur’an, Hadis, Ijmak, dan Qiyas.
  3. Pengonteng (Lanangan): Berisi tiga entakan (tak-dik-tak), merepresentasikan tiga sendi pokok ajaran Islam: Tauhid, Fikih, dan Tasawuf.

Gerakan Roddat: Meditasi Fisik, Simbol Kaligrafi, dan Sambat Ilahi

Aktivitas fisik para jemaah penabuh dan peserta selawat dikenal dengan istilah roddat (berasal dari kata kerja radda-yaruddu-roddan, yang bermakna membalas atau mengembalikan).

Dalam praktiknya, pelaku roddat mengemban empat laku ibadah sekaligus:

  • Membalas untaian bait syair yang disuarakan oleh Guru Hadi.
  • Menampilkan gerak tubuh berirama (raqs).
  • Membunyikan tepukan tangan berketukan presisi (tashfiq).
  • Menjalani suluk (dalam falsafah Jawa disebut sambat maring Gusti Allah), yaitu momen bermunajat, mengadukan beban hidup, dan memohon syafaat Nabi Muhammad saw.

Seluruh ekspresi visual roddat terbagi atas dua sinkronisasi gerak utama:

  • Roddat Badan dan Anggukan Kepala: Entakan kepala yang mengikuti ritme terbang secara simbolis menggoreskan kaligrafi lafaz Allah.
  • Roddat Badan dan Tarian Tangan: Liukan tangan yang ritmis bersamaan dengan tepuk tangan membentuk alur penulisan kaligrafi nama Muhammad.

Melalui paduan estetika, keteguhan sejarah, dan kedalaman zikir, ISHARI terus bertahan melintasi zaman bukan sekadar pertunjukan seni perkusi, melainkan warisan peradaban spiritual santri yang terus hidup.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU Kebumen

    Rombongan PCNU Kebumen ke Muktamar, Satu Perjalanan Raih Dua Keberkahan

    • account_circle Arif Widodo
    • 0Komentar

    ROMBONGAN Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kebumen yang sebagian besar dari Majelis Wakil Cabang (MWC) NU, meraih dua keberkahan dalam perjalanan menuju Muktamar Ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Rabu (26/8/2026). Betapa tidak, mereka bisa langsung berjumpa dengan ulama yang diidolakan maupun berada dalam satu forum dengan kasepuhan pada […]

  • OSKANU IV

    Rekapitulasi Medali OSKANU IV 2026 LP Ma’arif NU Kabupaten Kebumen

    • account_circle NUOKe
    • 0Komentar

    KEBUMEN, NUOKe – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh kontingen pelajar madrasah dan sekolah di bawah naungan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Cabang Kebumen. Dalam ajang bergengsi Olimpiade Sains dan Ke-NU-an (OSKANU) IV Tahun 2026 tingkat Provinsi Jawa Tengah, kontingen Kabupaten Kebumen berhasil membawa pulang total 34 medali. Raihan impresif tersebut terdiri atas 4 Medali Emas, […]

  • Download Logo Resmi GP Ansor Versi Vector, PNG, CDR

    Download Logo Resmi GP Ansor Versi Vektor, PNG, CDR

    • account_circle NUOKe
    • 0Komentar

    Lambang sebuah organisasi bukan sekadar identitas visual, melainkan kristalisasi dari nilai, prinsip, dan arah perjuangan yang diembannya. Bagi Gerakan Pemuda (GP) Ansor, setiap garis, warna, dan ornamen yang membentuk lambangnya menyimpan filosofi keislaman dan kebangsaan yang mendalam. Filosofi Bentuk dan Fondasi Ajaran Fondasi visual lambang GP Ansor ditopang oleh bentuk segitiga dan paduan warna yang […]

  • IPNU IPPNU

    PK IPNU-IPPNU UMNU Kebumen Resmi dilantik, Gandeng Fatayat Kembangkan Sayap Kewirausahaan

    • account_circle NUOKe
    • 0Komentar

    NUOKe — Pimpinan Komisariat IPNU IPPNU UMNU Kebumen menggelar pelantikan dan upgrading kepengurusan periode 2026/2027 di Gedung PCNU Kebumen, Kamis (20/8/2026). Melalui agenda ini, PK IPNU-IPPNU UMNU Kebumen secara resmi menjalin kolaborasi strategis di bidang kewirausahaan bersama PC Fatayat NU Kebumen. Sebanyak 87 kader baru terdiri dari 25 kader IPNU dan 62 kader IPPNU resmi […]

  • Lomba Paduan Suara PC Fatayat NU Kebumen 2026 Rekap Juara dan Semarak Harmonisasi, PAC Prembuan Juara I

    Lomba Paduan Suara PC Fatayat NU Kebumen 2026: Rekap Juara dan Semarak Harmonisasi, PAC Prembun Juara I

    • account_circle NUOKe
    • 0Komentar

    KEBUMEN, NUOKe – Suasana penuh semangat dan kekhidmatan menyelimuti Gedung PCNU Kabupaten Kebumen pada Minggu (27/9/2026). Ratusan kader perempuan muda Nahdlatul Ulama dari berbagai penjuru wilayah memadati aula guna menyemarakkan gelaran prestisius Lomba Paduan Suara Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Kebumen Tahun 2026. Mengusung semangat cinta tanah air dan dedikasi kepada jam’iyah, ajang bergengsi […]

  • IPNU

    Profil Lengkap IPNU: Sejarah, Makna Lambang, Struktur Organisasi, dan Download Logo

    • account_circle NUOKe
    • 0Komentar

    Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) merupakan badan otonom di bawah naungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang mewadahi generasi muda, pelajar, dan santri di seluruh Indonesia. Berdiri sejak masa pascakemerdekaan, IPNU konsisten menjadi kawah candradimuka pengkaderan yang menyelaraskan nilai keagamaan berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dengan komitmen kebangsaan berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Sebagai organisasi […]

expand_less