Gelaran Muktamar Ke-35 NU (2-habis)
- account_circle Arif Widodo
- print Cetak

TAMPAK KOKOH : Gapura Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tampak kokoh di tengah gelaran Muktamar Ke-35 NU pada 27-31 Agustus 2026.
Gelaran Muktamar Ke-35 NU (2-habis)
Kisruh karena Perbedaan Pendapat Bisa Diredam, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Punya Semboyan Guyub Rukun Saklawase
KEDIGDAYAAN Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, yang menjadi tempat gelaran Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada 27 – 31 Agustus 2026, dapat dijadikan role model dalam mengelola perbedaan pendapat agar tidak sampai menimbulkan kekisruhan atau bahkan perpecahan. Keberadaannya yang kini sudah berkembang menjadi 53 pesantren dengan pengasuh berbeda-beda dari dzuriyah pendiri awal KH Hasbullah Sa’id itu, memiliki semboyan guyub rukun saklawase (selamanya rukun).
“Jangan sampai kita tercerai berai. Perbedaan pendapat itu hal biasa,” kata Ketua Umum Yayasan Bahrul Ulum Tambakberas, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq yang Ketua Panitia Lokal Muktamar Ke-35 NU kepada Tim Media PCNU Kebumen di sela-sela gelaran Muktamar.
Selama ini kita terlalu sering dipertontonkan perbedaan pendapat sebagai pintu masuk seabrek kepentingan. Sehingga yang keluar melalui banyak pintu itu justru tak terkendalinya situasi dan kondisi. Pondok Pesantren Bahrul Ulum memiliki sistem yang kokoh dalam pengelolaanya agar selalu kondusif. Di mana melibatkan Majelis Pengasuh yang berasal dari empat keturunan (bani) pendiri awal, KH Abdullah Sa’id, yaitu KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Abdul Hamid Hasbullah, KH Abdurrohim Hasbullah dan Nyai Hj Fathimah Hasbullah.
“Empat bani itu sebagaimana Ahwa (Ahlul Halli wal Aqdi) di NU. Tapi kalau di kita jumlahnya menyesuaikan, sekarang berjumlah 16 orang, jadi masing-masing bani ada 4 orang, yang salah satunya menjadi Ketua Umum Yayasan Bahrul Ulum,” jelas Gus Rozaq.
Kemudian di bawah ketua umum yayasan terdapat lima ketua yang menangani berbagai bidang. Dan sistem tersebut, kata Gus Rozaq, sudah berjalan sejak dibentuk yayasan pada tahun 1989.

DUA JEMPOL : Ketua Yayasan Bahrul Ulum, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq mengacungkan dua jempol saat membuka drone show di sela-sela gelaran Muktamar Ke-35 NU pada 27 – 31 Agustus 2026
“Jadi kalau dari yayasan perintahnya A, maka semuanya juga A. Sedangkan pengelolaan keuangannya dilakukan secara terbuka dan diaudit,” ungkap Gus Rozaq yang merupakan generasi Ke-8.
Gus Rozaq menambahkan, semboyan guyub rukun saklawase diimplementasikan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas dengan kumpul-kumpul, melakukan obrolan ringan, say hallo, serta jumpa darat setiap Jumat dan makan-makan. Adapun sidang Majelis Pengasuh, kata suami Ny Hj Nurhamidah yang dikaruniai 8 anak ini, dilakukan rutin setiap 4 bulan sekali.
Lebih lanjut, persatuan menjadi kunci dalam berketuhanan dan berperikemanusiaan, sehingga musyawarah yang ditempuh menghasilkan keadilan bagi semua pihak. Dengan demikian, merawat persatuan penting dilakukan, terlebih di organisasi NU dengan anggota sekitar 120 juta orang, yang oleh Presiden Prabowo Subianto disebutnya sebagai aset bangsa.
Barang Keramat
Gus Rozaq lantas memberi wejangan, “Ngramut (merawat) barang keramat insya Allah uripe kerumat (hidupnya terurus)”.
Pihaknya pun meredam kisruh yang sempat mewarnai gelaran Muktamar kali ini. Selanjutnya sebagai salah satu upaya mengantisipasi perpecahan di NU telah disepakati mengenai perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026 – 2031 dari sebelumnya yang menggunakan sistem pemilihan langsung oleh peserta Muktamar / Muktamirin menjadi mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa).

MASUK ARENA : KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin ( kiri ) yang terpilih sebagai Ketua Umum PBNU memasuki arena Muktamar Ke-35 pada 27 – 31 Agustus 2026
Terpilihlah KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU yang menggantikan KH Yahya Cholil Tsakuf. Ia bersaing dengan empat kandidat lainnya yang diajukan Muktamirin untuk mendapatkan persetujuan Rais Aam terpilih, KH Miftakhul Akhyar dan dimusyawarahkan oleh Ahwa yang berjumlah 9 kiai sepuh. Masing-masing yakni KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Sochib, KH Yahya Kholil Staquf dan KH Abdul Ghaffar Rozin.
Adapun 9 kiai sepuh yang menjadi Ahwa, selain KH Miftahul Akhyar terdapat KH Nurul Huda Jazuli, TGK KH Nuruzzahri Yahya, Dr KH Baharuddin HS, KH Afifuddin Muhajir, KH Anwar Iskandar, KH Anwar Mansur, Dr KH Abun Bunyamin dan Prof Dr KH Said Aqil Siroj.
Ketua Tanfidziyah PCNU Kebumen Dr Imam Satibi MPdI mengucapkan selamat kepada KH Miftahul Akhyar dan Gus Kikin yang diamahi sebagai Rais Aam dan Ketua Umum PBNU periode 2026 – 2031. Pihaknya bersyukur Muktamar menghasilkan berbagai kebijakan strategis. Selain kepemimpinan Rais Aam dan Ketua Tanfidziyah (Ketua Umum PBNU), juga rumusan visi misi NU dan garis-garis besar program lima tahun NU.

ANTUSIAS : KH Afifuddin Al Hasani ( depan kiri ) KH Fauzin Jamil MPdI ( depan kanan ) H Muhiban SAg MPdI ( belakang kiri ) Dr H Imam Satibi MPdI ( belakang kanan ) antusias mengikuti rangkaian Muktamar Ke-35 NU pada 27 – 31 Agustus 2026
Muktamar pertama pada abad Ke-2 NU ini juga menghasilkan tata organisasi, perubahan AD/ART, rekomendasi strategis untuk eksternal dan internal, serta dihasilkannya pemikiran-pemikiran melalui batsul masail dalam menyikapi fenomena yang terjadi karena perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan dan budaya.
Terkait dengan kepengurusan PBNU mendatang, Imam Satibi berharap mengakomodasi sumber daya manusia (SDM) yang unggul, kompetitif, dan ahli di bidangnya. Selanjutnya mengembalikan kepercayaan masyarakat dari sejumlah kontroversial yang mencuat ke publik. Sehingga NU tetap solid dan kompak. Jika pun ada perbedaan, kata Imam, perbedaan itu hanya soal teknis dan tidak menyangkut prinsip. Harapan berikutnya, PBNU melakukan konsolidasi dengan PCNU hingga ranting untuk melakukan pergerakan yang berlandaskan ide, gagasan, bukan bergerak di tempat.
“Kita support kepengurusan PBNU yang baru, kepemimpinan yang baru. Kita optimistis ke depan bisa menjadi solusi yang baik dan NU punya jejaring yang kuat dari atas sampai bawah,” jelasnya.
- Penulis: Arif Widodo

Saat ini belum ada komentar